Bacanikmat - Bercinta Dengan Mamaku Yang Semok
Marlina (nama samaran), 35 tahun, ialah seseorang ibu rumah-tangga dengan 2 orang anak, Tampilan Marlina begitu menarik. Menjadi wanita yang tinggal di kota besar, Bandung, langkah berpakaiannya tetap sexy. Tidak sexy murahan tetapi berkualitas serta menarik.
Dengan badan tinggi semampai, dada 36, serta kulit yang putih, walaupun telah menikah serta miliki anak yang cukup sudah dewasa, tetapi ada banyak lelaki yang tetap menggodanya. Anaknya yang terbesar, Jimmy (nama samaran), 19 tahun, seseorang anak yang yang baik serta penurut pada seorang tuanya.
Anak ke-2, Yenny (nama samaran), 18 tahun, seseorang anak yang telah mulai bergerak dewasa. Sedang suami Marlina, Herman (nama samaran), ialah seseorang suami yang lumayan baik serta perhatian pada keluarga.
Kerja menjadi seseorang PNS di satu lembaga pemerintah. Kehidupan sexual Marlina sebenarnya tidak ada permasalahan benar-benar dengan suaminya. Walaupun banyak lelaki yang merayu, tidak sedikitpun ada kemauan ia untuk mengkhianati Herman.
Tetapi ada suatu yang beralih dalam diri Marlina saat satu hari ia dengan tidak menyengaja lihat anak lelakinya, Jimmy, tengah kenakan pakaian sesudah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas lihat Jimmy telanjang.
Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidaklah terlalu lebat. Mulai sejak itu Marlina pikirannya tetap ingat pada badan telanjang anak lelakinya itu. Bahkan juga sering Marlina memerhatikan Jimmy jika tengah makan, tengah duduk, atau tengah apa pun jika ada peluang.
“Ada apakah si Mam, kok liatin Jimmy selalu?” bertanya Jimmy saat Marlina memperhatikannya di ruangan tamu.
“Tidak ada apa-apa, Jim.. Akan tetapi Ibu jadi suka sebab lihat kamu semakin besar serta dewasa,” tutur Marlina sekalian tersenyum.
“Kamu telah miliki pacar, Jim?” bertanya Marlina si ibu nakal.
“Pacar sah sich belumlah ada, tetapi jika sebatas rekan jalan sich ada banyak. Memangnya mengapa, Mam?” bertanya Jimmy.
“Ah, tidak. Ibu cuma ingin tahu saja,” tutur Marlina.
“Kamu sempat kissing?” bertanya Marlina.
“Ah, Ibu.. Pertanyaannya membuat malu Jimmy ah…” tutur Jimmy sekalian tersenyum.
“Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Ibu. Ibu sempat juga muda kok. Ibu memahami akan maunya anak muda kok…” tutur Marlina sekalian menjewer perlahan telinga Jimmy. Jimmy ketawa.
“Ya, Jimmy sempat ciuman dengan mereka,” tutur jimmy.
“ML?” bertanya Marlina kembali.
“ML apakah sich berarti, Mam?” bertanya Jimmy tidak memahami.
“Making Love atau ngentot …” tutur Marlina si ibu nakal sekalian mempraktikkan ibu jarinya diselipkan di antara telunjuk serta jari tengah.
“Wah jika itu JImmy tidak pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil…” tutur Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.
“Kenapa Ibu tersenyum?” bertanya Jimmy.
“Karena kamu masih tetap begitu polos, sayang…” kata Marlina si ibu nakal sekalian mencubit pipi Jimmy, lantas bangun untuk mempersiapkan semua sesuatunya sebab Herman akan selekasnya pulang.
Malam harinya, Marlina, Jimmy, serta Yenny asik melihat TV, sedang Herman tengah kerjakan suatu di meja kerjanya.
“Ciuman rasa-rasanya bagaimana sich?” bertanya Yenny saat melihat adegan ciuman di tv.
“Ah, kamu.. Masih tetap kecil! Tak perlu tahu,” tutur Jimmy sekalian mengucek-ngucek rambut Yenny.
“Tidak bisa demikian, Jim.. Adikmu mesti tahu mengenai apa pun yang ia tidak memahami. Agar tidak salah langkah nantinya…” tutur Marlina sekalian memandang Jimmy.
“Begini, Yen…” tutur Marlina.
“Ciuman itu tidak ada perasaan apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Akan tetapi, jika kamu telah besar kelak serta telah merasakan, yang merasa cuma perasaan nyaman serta semakin sayang pada pacar atau suami kamu…” tutur Marlina si ibu nakal kembali.
Dengan badan tinggi semampai, dada 36, serta kulit yang putih, walaupun telah menikah serta miliki anak yang cukup sudah dewasa, tetapi ada banyak lelaki yang tetap menggodanya. Anaknya yang terbesar, Jimmy (nama samaran), 19 tahun, seseorang anak yang yang baik serta penurut pada seorang tuanya.
Anak ke-2, Yenny (nama samaran), 18 tahun, seseorang anak yang telah mulai bergerak dewasa. Sedang suami Marlina, Herman (nama samaran), ialah seseorang suami yang lumayan baik serta perhatian pada keluarga.
Kerja menjadi seseorang PNS di satu lembaga pemerintah. Kehidupan sexual Marlina sebenarnya tidak ada permasalahan benar-benar dengan suaminya. Walaupun banyak lelaki yang merayu, tidak sedikitpun ada kemauan ia untuk mengkhianati Herman.
— ç‰¹å ±ç”²ç¾… (@coo1126816) July 23, 2016
Tetapi ada suatu yang beralih dalam diri Marlina saat satu hari ia dengan tidak menyengaja lihat anak lelakinya, Jimmy, tengah kenakan pakaian sesudah mandi. Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Marlina dengan jelas lihat Jimmy telanjang.
Matanya tertuju pada kontol Jimmy yang dihiasi dengan bulu-bulu yang tidaklah terlalu lebat. Mulai sejak itu Marlina pikirannya tetap ingat pada badan telanjang anak lelakinya itu. Bahkan juga sering Marlina memerhatikan Jimmy jika tengah makan, tengah duduk, atau tengah apa pun jika ada peluang.
“Ada apakah si Mam, kok liatin Jimmy selalu?” bertanya Jimmy saat Marlina memperhatikannya di ruangan tamu.
“Tidak ada apa-apa, Jim.. Akan tetapi Ibu jadi suka sebab lihat kamu semakin besar serta dewasa,” tutur Marlina sekalian tersenyum.
“Kamu telah miliki pacar, Jim?” bertanya Marlina si ibu nakal.
“Pacar sah sich belumlah ada, tetapi jika sebatas rekan jalan sich ada banyak. Memangnya mengapa, Mam?” bertanya Jimmy.
“Ah, tidak. Ibu cuma ingin tahu saja,” tutur Marlina.
“Kamu sempat kissing?” bertanya Marlina.
“Ah, Ibu.. Pertanyaannya membuat malu Jimmy ah…” tutur Jimmy sekalian tersenyum.
“Yee.. Tidak apa-apa kok, Jim.. Jujur saja pada Ibu. Ibu sempat juga muda kok. Ibu memahami akan maunya anak muda kok…” tutur Marlina sekalian menjewer perlahan telinga Jimmy. Jimmy ketawa.
“Ya, Jimmy sempat ciuman dengan mereka,” tutur jimmy.
“ML?” bertanya Marlina kembali.
“ML apakah sich berarti, Mam?” bertanya Jimmy tidak memahami.
“Making Love atau ngentot …” tutur Marlina si ibu nakal sekalian mempraktikkan ibu jarinya diselipkan di antara telunjuk serta jari tengah.
“Wah jika itu JImmy tidak pernah, Mam.. Tidak berani. Takut hamil…” tutur Jimmy. Marlina tersenyum mendengarnya.
“Kenapa Ibu tersenyum?” bertanya Jimmy.
“Karena kamu masih tetap begitu polos, sayang…” kata Marlina si ibu nakal sekalian mencubit pipi Jimmy, lantas bangun untuk mempersiapkan semua sesuatunya sebab Herman akan selekasnya pulang.
Malam harinya, Marlina, Jimmy, serta Yenny asik melihat TV, sedang Herman tengah kerjakan suatu di meja kerjanya.
“Ciuman rasa-rasanya bagaimana sich?” bertanya Yenny saat melihat adegan ciuman di tv.
“Ah, kamu.. Masih tetap kecil! Tak perlu tahu,” tutur Jimmy sekalian mengucek-ngucek rambut Yenny.
“Tidak bisa demikian, Jim.. Adikmu mesti tahu mengenai apa pun yang ia tidak memahami. Agar tidak salah langkah nantinya…” tutur Marlina sekalian memandang Jimmy.
“Begini, Yen…” tutur Marlina.
“Ciuman itu tidak ada perasaan apa-apa.. Tidak manis, pahit atau asin. Akan tetapi, jika kamu telah besar kelak serta telah merasakan, yang merasa cuma perasaan nyaman serta semakin sayang pada pacar atau suami kamu…” tutur Marlina si ibu nakal kembali.
“Ah, tidak ngerti…” tutur yenny.
“Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Telah ngantuk…” tutur Yenny.
“Ya telah, istirahatlah sayang,” tutur Marlina. Yenny lalu bangun serta selekasnya ke arah kamar tidurnya.
Saat melihat adegan ranjang di tv, Marlina menanyakan pada Jimmy, “Apakah kamu telah itu dengan pacarmu?”.
“Jimmy belumlah miliki pacar, Mam.. Mereka sekedar hanya rekan saja,” jawab Jimmy.
“Tapi kok kamu dapat ciuman dengan mereka?” bertanya Marlina si ibu nakal kembali sekalian tersenyum.
“Ya namanya pun sama-sama suka…” jawab Jimmy sekalian tersenyum juga.
“Sudah sejauh manakah kamu lakukan suatu dengan mereka?” bertanya Marlina.
“Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Ibu,” katanya Marlina kembali. Jimmy memandang mata ibunya sekalian tersenyum.
“Ya begitulah…” kata Jimmy.
“Ya demikianlah apakah?” bertanya Marlina si ibu nakal kembali.
“Ya begiutlah.. Ciuman, sama-sama pegang, sama-sama raba…” tutur Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.
“Hanya itu?” bertanya Marlina kembali.
Jimmy melirik mengarah ayahnya yang tengah repot kerjakan suatu di meja kerjanya.
“Mama janganlah katakan ke Papah ya?” tutur Jimmy.
Marlina tersenyum sekalian mengangguk. Jimmy lantas beringsut mendekati Marlina.
“Jimmy sempat oral dengan beberapa rekan wanita…” katanya sekalian berbisik.
Marlina tersenyum sekalian mencubit pipi Jimmy.
“Nakal pun ya kamu!” tutur Marlina si ibu nakal sekalian tersenyum.
“Rasanya bagaimana?” bertanya Marlina sekalian berbisik.
“Sangat enak, Mam…” tutur Jimmy.
“Tapi Jimmy dengar, tuturnya jika miliki Jimmy dimasukkan ke miliki wanita rasa-rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?” bertanya Jimmy.
Marlina kembali tersenyum tetapi tidak menjawab..
“Kamu ingin tahu rasa-rasanya, Jim?” bertanya Marlina sekalian masih tersenyum. Jimmy mengangguk.
“Sini turut Mama…” ajak Marlina sekalian bangun lantas pergi ke ruangan belakang. Jimmy ikuti dari belakang.
“Mendingan Yenny tidur saja, ah.. Telah ngantuk…” tutur Yenny.
“Ya telah, istirahatlah sayang,” tutur Marlina. Yenny lalu bangun serta selekasnya ke arah kamar tidurnya.
Saat melihat adegan ranjang di tv, Marlina menanyakan pada Jimmy, “Apakah kamu telah itu dengan pacarmu?”.
“Jimmy belumlah miliki pacar, Mam.. Mereka sekedar hanya rekan saja,” jawab Jimmy.
“Tapi kok kamu dapat ciuman dengan mereka?” bertanya Marlina si ibu nakal kembali sekalian tersenyum.
“Ya namanya pun sama-sama suka…” jawab Jimmy sekalian tersenyum juga.
“Sudah sejauh manakah kamu lakukan suatu dengan mereka?” bertanya Marlina.
“Tidak apa-apa kok, Jim.. Bicara terbuka saja dengan Ibu,” katanya Marlina kembali. Jimmy memandang mata ibunya sekalian tersenyum.
“Ya begitulah…” kata Jimmy.
“Ya demikianlah apakah?” bertanya Marlina si ibu nakal kembali.
“Ya begiutlah.. Ciuman, sama-sama pegang, sama-sama raba…” tutur Jimmy malu malu. Marlina tersenyum.
“Hanya itu?” bertanya Marlina kembali.
Jimmy melirik mengarah ayahnya yang tengah repot kerjakan suatu di meja kerjanya.
“Mama janganlah katakan ke Papah ya?” tutur Jimmy.
Marlina tersenyum sekalian mengangguk. Jimmy lantas beringsut mendekati Marlina.
“Jimmy sempat oral dengan beberapa rekan wanita…” katanya sekalian berbisik.
Marlina tersenyum sekalian mencubit pipi Jimmy.
“Nakal pun ya kamu!” tutur Marlina si ibu nakal sekalian tersenyum.
“Rasanya bagaimana?” bertanya Marlina sekalian berbisik.
“Sangat enak, Mam…” tutur Jimmy.
“Tapi Jimmy dengar, tuturnya jika miliki Jimmy dimasukkan ke miliki wanita rasa-rasanya lebih enak.. Benar tidak, Mam?” bertanya Jimmy.
Marlina kembali tersenyum tetapi tidak menjawab..
“Kamu ingin tahu rasa-rasanya, Jim?” bertanya Marlina sekalian masih tersenyum. Jimmy mengangguk.
“Sini turut Mama…” ajak Marlina sekalian bangun lantas pergi ke ruangan belakang. Jimmy ikuti dari belakang.
Sesampai di ruangan belakang, Marlina menarik tangan Jimmy supaya mendekat.
“Ada apakah sich, Mam?” bertanya Jimmy.
“Karena kamu telah dewasa, Ibu kira kamu seharusnya tahu mengenai hal itu,” tutur Marlina dengan nafas cukup mengincar meredam gejolak yang sampai kini terpendam pada anaknya itu.
“Ciumlah Ibu sayang…” kata Marlina si ibu nakal sekalian mengecup bibir Jimmy.
Jimmy diam sebab tidak paham mesti melakukan perbuatan apakah. Marlina selalu melumat bibir anaknya itu sekalian tanggannya masuk ke celana Hawaii Jimmy. Lantas dengan lembut diremas serta dikocoknya kontol anaknya. Sebab tidak tahan rasakan perasaan enak, Jimmy dengan selekasnya membalas ciuman Marlina dengan hangat. Sekalian selalu mengocok serta meremas kontol Jimmy, Marlina berkata,
“Kamu ingin rasakan rasa-rasanya bersetubuh kan, sayang?”.
“Iya, Mam…” tutur Jimmy dengan nafas mengincar.
“Mama pun sama, Jim.. Ibu ingin rasakan hal tersebut dengan kamu,” tutur Marlina.
“Kapan, Ma?” bertanya Jimmy sekalian menggerakkan pinggulnya maju mundur sebab enak dikocok kontol oleh Marlina.
“Jangan saat ini ya, sayang…” tutur Marlina si ibu nakal sekalian melepas genggaman tangannya pada kontol Jimmy.
“Yang terpenting kamu mesti tahu jika Ibu begitu sayang kamu…” kata Marlina sekalian mengecup bibir Jimmy.
“Jimmy sangat sayang Ibu,” tutur Jimmy.
“Sekarang Ibu mesti tidur sebab telah malam. Kelak Papamu curiga…” tutur Marlina sekalian tinggalkan Jimmy.
“Kamu ingin rasakan rasa-rasanya bersetubuh kan, sayang?”.
“Iya, Mam…” tutur Jimmy dengan nafas mengincar.
“Mama pun sama, Jim.. Ibu ingin rasakan hal tersebut dengan kamu,” tutur Marlina.
“Kapan, Ma?” bertanya Jimmy sekalian menggerakkan pinggulnya maju mundur sebab enak dikocok kontol oleh Marlina.
“Jangan saat ini ya, sayang…” tutur Marlina si ibu nakal sekalian melepas genggaman tangannya pada kontol Jimmy.
“Yang terpenting kamu mesti tahu jika Ibu begitu sayang kamu…” kata Marlina sekalian mengecup bibir Jimmy.
“Jimmy sangat sayang Ibu,” tutur Jimmy.
“Sekarang Ibu mesti tidur sebab telah malam. Kelak Papamu curiga…” tutur Marlina sekalian tinggalkan Jimmy.
Jimmy menarik nafas panjang meredam satu perasaan yang tidak dapat disampaikan.. Tidak lama Jimmy masuk ke kamar mandi.. Masturbasi. Besok paginya, Herman telah bersiap pergi kerja sekalipun mengantarkan Yenni ke sekolah sebab masuk pagi. Sesaat Jimmy masuk sekolah siang. Ia masih tetap tidur di kamarnya.
Sesudah Herman serta Yenni pergi, dengan selekasnya Marlina mengetuk serta masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tetap tidur dengan cuma menggunakan celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sekalian duduk disamping ranjang anaknya itu.
Tangannya menyeka dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terjaga sebab rasakan ada suatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Saat matanya dibuka, tampak mamanya tengah memandang dianya sekalian tersenyum.
“Bangun dong, sayang.. Telah siang,” tutur Marlina sekalian tangannya beralih masuk ke celana Hawaii Jimmy.
Diusap, dibelai, diremas, lantas dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang serta tegak. Jimmy selalu memandang mata MArlina sekalian rasakan perasaan nikmat pada kontolnya.
“Mau saat ini?” bertanya Marlina si ibu nakal sekalian masih tersenyum.
“Saya ingin kencing dahulu, Mam…” kata Jimmy sekalian bangun lantas bergegas ke kamar mandi. Sesudah tuntas, selekasnya ia kembali pada kamarnya.
“Lama sangat sich?” bertanya Marlina.
“Jimmy kan sikat gigi dahulu, Mam…” tutur Jimmy sekalian duduk di tepi ranjang berdampingan dengan Marlina.
“Kenapa Ibu ingin lakukan ini dengan Jimmy?” bertanya Jimmy. Marlina tersenyum sekalian mencium pipi anaknya itu.
“Karena Ibu begitu sayang kamu. Pun Ibu ingin mendapatkan kebahagiaan dari orang yang sangat Ibu cintai.. Kamu,” tutur Marlina sekalian lalu melumat bibir Jimmy.
Jimmy membalasnya dengan hangat juga. Lalu Marlina bangun lantas melepas semua baju yang melekat di tubuhnya. Jimmy selalu memandang badan ibunya dengan takjub serta nafsu.
“Buka celana kamu dong, sayang,” tutur Marlina.
“Iya, Mam…” tutur Jimmy sekalian bangun lantas melepas celana Hawaiinya.
“Sini, Jim…” tutur Marlina si ibu nakal sekalian berjongkok.
Tidak lama mulut Marlina telah mengulum kontol Jimmy. Jilatan serta hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya meredam nikmat yang sangat begitu.
“Mmhh.. Enakk, Mamm…” desah Jimmy sekalian cukup menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Marlina melepas kulumannya, sekalian tersenyum memandang muka Jimmy yang tengadah rasakan nikmat, tangannya selalu mengocok kontol Jimmy.
“Gantian, Jim…” tutur Marlina.
“Iya, Mam…” tutur Jimmy.
Marlina lantas naik ke ranjang anaknya. Lantas selekasnya dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan mukanya ke memek Marlina. Lantas selekasnya dijilatinya semua permukaan memek Marlina. Marlina terpejam meredam nikmat. Ditambah lagi saat jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sekalian menggoyangkan pinggulnya.
“Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm…” desah Marlina.
Sesudah Herman serta Yenni pergi, dengan selekasnya Marlina mengetuk serta masuk ke kamar Jimmy. Jimmy masih tetap tidur dengan cuma menggunakan celana Hawaii saja. Marlina tersenyum sekalian duduk disamping ranjang anaknya itu.
Tangannya menyeka dada Jimmy. Dimainkannya puting susu Jimmy. Jimmy terjaga sebab rasakan ada suatu yang membuat darahnya berdesir nikmat. Saat matanya dibuka, tampak mamanya tengah memandang dianya sekalian tersenyum.
“Bangun dong, sayang.. Telah siang,” tutur Marlina sekalian tangannya beralih masuk ke celana Hawaii Jimmy.
Diusap, dibelai, diremas, lantas dikocoknya kontol Jimmy sampai tegang serta tegak. Jimmy selalu memandang mata MArlina sekalian rasakan perasaan nikmat pada kontolnya.
“Mau saat ini?” bertanya Marlina si ibu nakal sekalian masih tersenyum.
“Saya ingin kencing dahulu, Mam…” kata Jimmy sekalian bangun lantas bergegas ke kamar mandi. Sesudah tuntas, selekasnya ia kembali pada kamarnya.
“Lama sangat sich?” bertanya Marlina.
“Jimmy kan sikat gigi dahulu, Mam…” tutur Jimmy sekalian duduk di tepi ranjang berdampingan dengan Marlina.
“Kenapa Ibu ingin lakukan ini dengan Jimmy?” bertanya Jimmy. Marlina tersenyum sekalian mencium pipi anaknya itu.
“Karena Ibu begitu sayang kamu. Pun Ibu ingin mendapatkan kebahagiaan dari orang yang sangat Ibu cintai.. Kamu,” tutur Marlina sekalian lalu melumat bibir Jimmy.
Jimmy membalasnya dengan hangat juga. Lalu Marlina bangun lantas melepas semua baju yang melekat di tubuhnya. Jimmy selalu memandang badan ibunya dengan takjub serta nafsu.
“Buka celana kamu dong, sayang,” tutur Marlina.
“Iya, Mam…” tutur Jimmy sekalian bangun lantas melepas celana Hawaiinya.
“Sini, Jim…” tutur Marlina si ibu nakal sekalian berjongkok.
Tidak lama mulut Marlina telah mengulum kontol Jimmy. Jilatan serta hisapannya membuat Jimmy bergetar tubuhnya meredam nikmat yang sangat begitu.
“Mmhh.. Enakk, Mamm…” desah Jimmy sekalian cukup menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Marlina melepas kulumannya, sekalian tersenyum memandang muka Jimmy yang tengadah rasakan nikmat, tangannya selalu mengocok kontol Jimmy.
“Gantian, Jim…” tutur Marlina.
“Iya, Mam…” tutur Jimmy.
Marlina lantas naik ke ranjang anaknya. Lantas selekasnya dibukanya paha lebar-lebar.. Jimmy langsung mendekatkan mukanya ke memek Marlina. Lantas selekasnya dijilatinya semua permukaan memek Marlina. Marlina terpejam meredam nikmat. Ditambah lagi saat jilatan lidah Jimmy bermain di kelentitnya.. Mata Marlina terpejam, tubuhnya bergetar sekalian menggoyangkan pinggulnya.
“Ohh.. Enakk.. Teruss, Jimm…” desah Marlina.
Sesudah demikian menit Marlina dijilati memeknya, tidak diduga tubuhnya bergetar semakin keras, ditekannya kepala Jimmy ke memeknya, lantas selekasnya dijepit dengan pahanya.. Tidak lama…
“Ohh.. Mhh.. Ohh…” desah Marlina panjang. Marlina orgasme.
“Ohh, enak sekali sayang.. Naik sini!” tutur Marlina.
Jimmy naik ke badan Marlina. Dengan selekasnya Marlina si ibu nakal melumat bibir Jimmy walaupun masih tetap belepotan dengan cairan dari memek Marlina sendiri.
“Masukkin sayang…” bisik Marlina sekalian memegang kontol Jimmy serta ditempatkan ke memeknya.
Sesudah itu, Jimmy langsung memompa kontolnya di memek Marlina. Mata Jimmy terpejam sekalian selalu mengeluarmasukkan kontolnya.
“Bagaimana rasa-rasanya, Jim?” bertanya Marlina sekalian menggoyangkan pinggulnya menyeimbangi pergerakan Jimmy.
“Nikmat sekali, Mam…” tutur Jimmy.
Marlina tersenyum sekalian selalu memandang mata anaknya. Tidak lama, tidak diduga badan Jimmy mengejang, gerakannya semakin cepat..
“Jimmy ingin keluar, Mam,” bisik Jimmy.
“Mmhh.. Mengeluarkan sayang, puaskan dirimu…” bisik Marlina si ibu nakal sekalian menggenggam pantat Jimmy lantas mengutamakan ke memeknya keras-keras.
Tidak lama.. Crott! Crott! Crott! Air mani Jimmy muncrat banyak di memek Marlina. Jimmy mendesakkan kontolnya dalam-dalam ke memek Marlina..
“Bagaimana rasa-rasanya sayang?” bertanya Marlina.
“Sangat nikmat, Mam.. Lebih nikmat dibanding oral…” tutur Jimmy sekalian mengecup bibir Marlina.
“Jimmy begitu sayang Ibu,” tutur Jimmy.
“Mama sangat sayang kamu,” tutur Marlina si ibu nakal.
Lantas mereka berpelukan telanjang.
